Kalkulus 3 — Pertemuan 5
Turunan Parsial
Laju perubahan fungsi multivariabel saat hanya satu variabel berubah — fondasi untuk gradien, optimisasi, dan PDE.
Ref: Purcell, Varberg & Rigdon, Calculus 9th ed., Bab 12.3–12.4. — Stewart, Calculus 9th ed., Bab 14.3–14.4.
Dari Turunan ke Turunan Parsial
Di Kalkulus 1, f′(x) mengukur laju perubahan f terhadap x. Untuk f(x,y), kita punya dua arah perubahan independen: sepanjang x (dengan y tetap) dan sepanjang y (dengan x tetap). Ini memberikan dua turunan parsial: ∂f/∂x dan ∂f/∂y.
Turunan parsial adalah building block untuk gradient, directional derivative, tangent plane, chain rule multivariabel, dan seluruh teori optimisasi.
1. Definisi Turunan Parsial
Definisi
∂f/∂x = fx(x,y) = limh→0 [f(x+h, y) − f(x,y)] / h
∂f/∂y = fy(x,y) = limh→0 [f(x, y+h) − f(x,y)] / h
Makna Mendalam
∂f/∂x = laju perubahan f saat kita bergerak di arah x sambil membekukan y. Secara geometris: kemiringan irisan permukaan oleh bidang y = konstan.
∂f/∂y = laju perubahan f saat kita bergerak di arah y sambil membekukan x. Secara geometris: kemiringan irisan permukaan oleh bidang x = konstan.
Visualisasi: Irisan Permukaan
Cara Menghitung: Praktis
Untuk ∂f/∂x:
Perlakukan y sebagai konstanta, lalu turunkan terhadap x menggunakan aturan turunan biasa.
Untuk ∂f/∂y:
Perlakukan x sebagai konstanta, lalu turunkan terhadap y menggunakan aturan turunan biasa.
Contoh: f(x,y) = x³y + 2xy² + y
∂f/∂x = 3x²y + 2y² (y sebagai konstanta)
∂f/∂y = x³ + 4xy + 1 (x sebagai konstanta)
2. Turunan Parsial Orde Tinggi
Empat Turunan Parsial Orde Dua
Teorema Clairaut (Kesamaan Mixed Partials)
asalkan fxy dan fyx kontinu di titik tersebut. Untuk fungsi-fungsi yang biasa ditemui (polinomial, eksponensial, trigonometri, dan komposisinya), teorema ini selalu berlaku.
Implikasi: Urutan diferensiasi tidak penting — sangat menyederhanakan perhitungan.
Counter-example Schwarz: Ketika Clairaut Gagal
Pertimbangkan fungsi piecewise klasik:
f(x,y) = xy(x² − y²)/(x² + y²), jika (x,y) ≠ (0,0)
f(0,0) = 0
Hitung di origin via definisi limit:
fx(0,y) = −y (untuk y ≠ 0)
fy(x,0) = x (untuk x ≠ 0)
∂/∂y[fx(0,y)]|y=0 = ∂/∂y(−y) = −1
∂/∂x[fy(x,0)]|x=0 = ∂/∂x(x) = +1
fxy(0,0) = −1 ≠ +1 = fyx(0,0) ✗
Mengapa? Mixed partials fxy dan fyx ada di setiap titik, tetapi tidak kontinu di (0,0). Hipotesis Clairaut gagal → kesimpulan tidak berlaku. Ini menunjukkan bahwa kekontinuan turunan kedua bukan formalitas — tanpanya, urutan diferensiasi benar-benar penting.
3. Bidang Singgung (Tangent Plane)
Teorema (Bidang Singgung)
Bidang singgung permukaan z = f(x,y) di titik (a, b, f(a,b)):
Ini adalah linear approximation — analog Taylor orde-1 untuk dua variabel. Vektor normal bidang singgung = ⟨fx, fy, −1⟩.
Visualisasi: Bidang Singgung pada Permukaan
Diferensial Total
Aproksimasi perubahan z ketika x berubah Δx dan y berubah Δy: Δz ≈ fxΔx + fyΔy.
Animasi: Tali-Busur → Garis Singgung saat h → 0
Saat h → 0, titik Q meluncur menuju P, dan garis sekan PQ berputar hingga berimpit dengan garis singgung. Slope sekan = [f(a+h, b) − f(a,b)]/h → fx(a,b).
4. Differentiability vs Continuity vs Existence of Partials
Definisi Formal Differentiability
f(x,y) differentiable di (a,b) jika terdapat konstanta A, B sehingga:
dengan ε(h,k) → 0 saat (h,k) → (0,0). Jika ada, A = fx(a,b) dan B = fy(a,b).
Intuisi: error linear approximation harus mengecil lebih cepat daripada jarak ke (a,b) — ini lebih kuat daripada sekadar “eksis turunan parsial”.
Hierarchy (Implikasi Searah)
Differentiable ⇒ Continuous & Partials Exist
Tetapi: sebaliknya tidak benar! Eksistensi partial derivatives tidak menjamin kekontinuan, apalagi differentiability.
Counter-example: Partials Exist tapi f Tidak Kontinu
f(x,y) = xy/(x²+y²), (x,y) ≠ (0,0)
f(0,0) = 0
Partials di origin (sepanjang sumbu):
fx(0,0) = limh→0 [f(h,0) − 0]/h = limh→0 0/h = 0 ✓
fy(0,0) = limk→0 [f(0,k) − 0]/k = 0 ✓
Tetapi f tidak kontinu di (0,0):
Jalur y = x: f(x,x) = x²/(2x²) = 1/2 ≠ f(0,0) = 0
Eksis kedua partials, tetapi f bahkan tidak kontinu — apalagi differentiable!
Pelajaran: turunan parsial hanya “melihat” perilaku f sepanjang sumbu. Untuk differentiability, kita butuh approximation linier yang baik di semua arah simultaneously.
Teorema Kondisi Cukup (Sufficient Condition)
Jika fx dan fy eksis dan kontinu di neighborhood (a,b), maka f differentiable di (a,b).
Catatan: Sebagian besar fungsi praktis (polinomial, exp, log, trig dan komposisinya) memiliki partials kontinu → otomatis differentiable. Tapi konstruksi piecewise patologis dapat menggagalkan kondisi ini.
5. Aplikasi: Persamaan Diferensial Parsial (PDE)
Mengapa PDE Penting?
PDE adalah persamaan yang melibatkan turunan parsial fungsi yang tidak diketahui — bahasa alam untuk mendeskripsikan medan, gelombang, aliran panas, difusi, dan dinamika fluida. Tiga PDE klasik menjadi contoh utamanya.
Persamaan Laplace: ∇²f = 0
Solusi disebut fungsi harmonik. Aplikasi:
- Elektrostatika: potensial listrik V di ruang bebas muatan memenuhi ∇²V = 0.
- Aliran fluida tak-mampat tak-rotasional: potensial kecepatan harmonik.
- Heat equation steady-state: jika ∂u/∂t = 0, persamaan panas direduksi ke Laplace.
- Mean Value Property: nilai f di pusat bola = rata-rata pada permukaan bola.
Contoh harmonik: excos y, exsin y, ln(x²+y²), x³ − 3xy².
Persamaan Panas (Heat Equation): ∂u/∂t = α∇²u
Interpretasi: u(x,t) = suhu pada posisi x dan waktu t. α > 0 = difusivitas termal. Persamaan ini parabolik — memuluskan ketidakteraturan seiring waktu.
Solusi fundamental (Gaussian):
Suhu impuls Dirac di t=0 menyebar membentuk lonceng Gaussian yang melebar ∝ √t.
Aplikasi modern: diffusion models (Stable Diffusion, DALL·E), image denoising (anisotropic diffusion), heat-flow regularization.
Persamaan Gelombang (Wave Equation): ∂²u/∂t² = c²∇²u
Interpretasi: u(x,t) = perpindahan gelombang. Hyperbolic PDE — mempertahankan informasi (tidak seperti heat equation yang menghapusnya).
Solusi d’Alembert (1D):
Superposisi gelombang ke kanan (F) dan ke kiri (G) dengan kecepatan c.
Aplikasi: getaran senar (musik), akustik, propagasi cahaya (Maxwell → wave equation), seismik, EEG/MEG dynamics.
6. Kalkulator Interaktif
Turunan Parsial Otomatis
Pilih fungsi
f(x,y) = x²y³
∂f/∂x = 2xy³
∂f/∂y = 3x²y²
∂²f/∂x² = 2y³
∂²f/∂y² = 6x²y
∂²f/∂x∂y = 6xy²
∂²f/∂y∂x = 6xy² ✓ (Clairaut)
Tangent Plane untuk z = x² + y²
f(1,1) = 2
fx(1,1) = 2(1) = 2
fy(1,1) = 2(1) = 2
z = 2 + 2(x-1) + 2(y-1)
7. Contoh Soal & Pembahasan
Soal 1: Turunan Parsial Dasar
Hitung fx dan fy untuk f(x,y) = x³sin y + yex.
Soal 2: Verifikasi Clairaut
Untuk f(x,y) = x²ey + cos(xy), verifikasi fxy = fyx.
Soal 3: Bidang Singgung
Tentukan persamaan bidang singgung z = x²y + xy³ di (1,1,2).
Soal 4: Diferensial Total
Gunakan diferensial untuk estimasi perubahan f(x,y) = x²y dari (3,4) ke (3.01, 3.98).
Soal 5: PDE Sederhana
Verifikasi bahwa f(x,y) = exsin y memenuhi Laplace equation: fxx + fyy = 0.
Soal 6: Turunan Parsial Implisit
Jika x² + y² + z² = 25, hitung ∂z/∂x.
Soal 7: Verifikasi Wave Equation
Verifikasi bahwa u(x,t) = sin(x − ct) memenuhi wave equation utt = c²uxx.
Soal 8: Mixed Partial Counter-example
Untuk f(x,y) = xy(x²−y²)/(x²+y²) jika (x,y)≠(0,0), 0 jika (0,0). Hitung fx(0,y) untuk y≠0.
Soal 9: Differentiability Check
Apakah f(x,y) = √(|xy|) differentiable di (0,0)? Hitung fx(0,0), fy(0,0), lalu uji along y=x.
Koneksi ke Ilmu Komputer
Backpropagation: Training neural network = menghitung ∂Loss/∂wi untuk setiap weight wi. Ini adalah turunan parsial dalam ruang berdimensi jutaan!
Automatic Differentiation: PyTorch/TensorFlow menghitung turunan parsial secara otomatis menggunakan chain rule dan computational graph.
Bank Soal Multi-Kompleksitas + Visualisasi Penyelesaian
Ref: Purcell 9e Bab 12.3–12.4 • Stewart 9e Bab 14.3–14.4 • Marsden-Tromba 6e Ch. 3
Mudah — Turunan Parsial Dasar
M1. Parsial Polinom
f(x,y) = 3x²y − xy³ + 5y. Hitung fx, fy.
M2. Parsial Fungsi Eksponensial
g(x,y) = exy. Hitung gx, gy, gxx.
M3. Chain Rule Satu Rantai
z = x² + y², x = cos t, y = sin t. Hitung dz/dt.
M4. Bidang Singgung Dasar
f(x,y) = x² + y². Bidang singgung di (1,2,5)?
Sedang — Kombinasi Konsep
S1. Turunan Parsial Campuran + Clairaut
Verifikasi fxy = fyx untuk f(x,y) = x³y² − ln(xy).
S2. Chain Rule Dua Parameter (s,t)
w = x²+2yz, x=s+t, y=st, z=s−t. Hitung ∂w/∂s di (s,t)=(1,2).
S3. Diferensial Total + Estimasi Error
Volume silinder V = πr²h. Jika r diukur 5 cm ±0.05 cm dan h = 10 cm ±0.1 cm, estimasi error maksimum dV.
S4. Parsial Implisit
F(x,y,z) = x²yz + ez − 1 = 0. Hitung ∂z/∂x menggunakan implicit differentiation.
Sulit — Multi-Step + Visualisasi Bidang Singgung
H1. Bidang Singgung + SVG Visualization
z = sin(πx/2) cos(πy/2). Hitung bidang singgung di (1,0,0). Visualisasikan.
H2. Higher-Order Partial + PDE
Verifikasi f(x,t) = sin(x)e−t memenuhi heat equation ft = fxx.
H3. Chain Rule Komposisi Kompleks
u = f(x,y,z), x = r sinφ cosθ, y = r sinφ sinθ, z = r cosφ. Hitung ∂u/∂r secara umum.
H4. Jacobian Matrix Neural Network
Layer: f(x,y)=(x+y, xy). Hitung Jacobian J = ∂(f1,f2)/∂(x,y) di (2,3).
Aplikasi / Mixed
A1. Backpropagation (Chain Rule)
Loss L = (a−y)², a = σ(z), z = wx + b. Hitung ∂L/∂w via chain rule (backprop 1 neuron).
A2. Sensitivity Analysis Econometrics
Revenue R(p,q) = p·q(p) dengan elasticity ∂q/∂p = −2. Jika p = 10 dan q = 100, hitung ∂R/∂p (marginal revenue).
A3. Jacobian Transformasi Linear
Transformasi f(a,b) = (a+wb, a−wb) dipakai pada tahap "butterfly" algoritma FFT. Hitung matriks Jacobian-nya. Mengapa determinannya menentukan apakah transformasi ini dapat dibalik?